Contoh Malakalah Fungsi Manajemen Poac
Kata
Pengantar
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang
Maha Esa , karena dengan berkatnya saya dapat menyelesaikan makalah yang
berjudul “ Fungsi Manajemen Poac “ ini tepat pada waktunya.
Makalah
ini dibuat dalam rangka melaksanakan tugas dasar Manajemen dan Jurusan Ekonomi.
Dalam
penulisan makalah ini saya menyadari makalah ini masih jauh dari
kata sempurna dan memiliki banyak kekurangan. Untuk itu saya mengharapakan
kritikan dan saran yang membangun dari dosen dan berbagai pihak yang sekiranya
membaca makalah ini demi perbaikan pembuatan makalah saya dimasa yang akan
datang.
Akhir
kata saya mengharapkan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis
khususnya dan pembaca pada umumnya.
Lhokseumawe,
24 Februari 2017
Penulis
FITRIA
DAFTAR
ISI
Sampul
...............................................................................................................................
i
Kata Pengantar ..................................................................................................................
ii
Daftar Isi
...........................................................................................................................
iii
Bab
1 Pendahuluan
.........................................................................................................
1
1.1
Latar Belakang
...............................................................................................
1
1.2
Tujuan Penulisan
...........................................................................................
2
Bab
2 Landasan Teori
....................................................................................................
3
2.1
Pengertian Manajemen
..................................................................................
3
2.2
Fungsi – Fungsi Manajemen
......................................................................... 5
2.3
Riwayat Perusahaan
......................................................................................
7
Bab 3 Pembahasan
.........................................................................................................
8
3.1
Planning .........................................................................................................
8
3.2
Orginizing
......................................................................................................
8
3.3
Actuating
........................................................................................................
9
3.4
Controling
.......................................................................................................
9
Bab 4 Penutup
...............................................................................................................
10
4.1
Kesimpulan
...................................................................................................
10
4.2
Saran
.............................................................................................................
10
Daftar Pusaka .................................................................................................................
10
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
POAC
1.1 POAC Sebagai Proses Manajemen
Dalam bahasan kelompok kami terdapat dua
sub bab, yaitu POAC dan POSDCORBE. Hal yang perlu ditekankan dalam materi kali
ini adalah, POAC merupakan sebuah proses.
SedangkanPOSDCORBE adalah sebuah fungsi. Karena POAC
sebuah proses, maka di dalam organisasi keberadaan POAC akan selalu berputar
dan tidak akan pernah berhenti.
Pendekatan membantu untuk memahami apa
yang manajer lakukan, yaitu menganggap pekerjaan mereka sebagai suatu proses.
Proses adalah serangkaian tindakan untuk mencapai sesuatu. Misalnya, membuat
keuntungan atau menyediakan layanan. Untuk mencapai tujuan, manajer
menggunakan sumber daya dan melaksanakan empat fungsi manajerial utama, yaitu
POAC (Planning, Organizing, Actuating, Controlling).
POAC diterapkan dalam setiap organisasi
di seluruh dunia guna mempertahankan kelanjutan organisasi. POAC adalah dasar
manajemen untuk organisasi manajerial. Terdapat beberapa konsep proses
manajemen, misalnya saja PDCE (Plan, Do, Check, Evaluate), dan PDCA (Plan,
Do, Check, Action). Namun, konsep POAC lebih banyak digunakan dan
diterapkan karena lebih sesuai untuk setiap tingkat manajemen.
1.2 Pengertian tiap Fungsi POAC
Fungsi POAC sendiri dalam suatu
organisasi adalah untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi suatu organisasi
dalam pencapaian tujuannya. Berikut adalah pemaparan singkat tentang tiap
bagian dari POAC, yang mana akan dibahas lebih dalam di bab lain:
Manajemen
memiliki arti yang begitu luas, sehingga pada kenyataanya tidak ada definisi
yang digunakan secara konsisten oleh semua orang. Pembahasan di makalah ini
akan mengambil dari definisi manajemen yang paling kompleks dan mencakup
aspek-aspek penting pengelolaan.
Definisi
manajemen yang paling kompleks tersebut yaitu, Manajemen merupakan proses
perencanaa, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan usaha-usaha yang
dilakukan organisasi serta penggunaan sumber daya-sumber daya organisasi
lainnya agar mencapai tujuan yang diharapkan.
Dari
definisi tersebut manajemen diartikan sebagai proses.
Proses
yang dimaksud disini terdiri dari kegiatan-kegiatan manajemen, yaitu
empat hal yang berdasarkan definisi diatas tadi yaitu mencakup perencanaan,
pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan.
“Siapa
saja yang membutuhkan manajemen ? “
Jawabannya
adalah perusahaan / bisnis dan segala kegiatan yang mencakup organisasi yang
mencakup banyak orang, kegiatan itu sendiri diupayakan berjalan sesuai dengan
konsep dan berjalan sesuai ketetapan awal demi lancarnya kegiatan usaha.
Maka dari
itu kita bisa menyimpulkan bahwa setiap perusahan atau organisasi membutuhkan
suatu manajemen yang menurut uraian diatas dapat didefinisikan sebagai upaya
bersama dalam mencapai tujuan organisasi dengan menerapkan fungsi POAC
(Planing, Organizing, Actuating, Controling) di perusahaan.
Berdasarkan
informasi diatas, maka penulis membuat makalah ini untuk menguraikan mengenai
penerapan POAC serta fungsi dari POAC itu sendiri pada manajemen perusahaan.
1.2 Tujuan
Penulisan
Tujuan
umum dari pembuatan makalah ini adalah memberikan informasi kepada semua
pembaca mengenai fungsi-fungsi dan penerapan manajemen di perusahaan.
Maksud
dari memberikan informasi kepada pembaca itu sendiri adalah, menjabarkan
mengenai penerapan dan fungsi manajemen yang meliputi planning, organizing,
actuating, controlling di PT. Satria Karya Sejahtra.
1. Planning
Perencanaan
berupa pemilihan atau penetapan tujuan-tujuan Perusahaan dan penentuan program
serta sistem yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan
2. Organizing
Pengorganisasian
ini mengenai penentuan sumber daya dan kegiatan kegiatan yang akan
dilaksanakan perusahaan.
Tujuan
organizing juga mencakup proses penugasan mengenai tanggung jawab dan pendelegasian
wewenang yang diperlukan kepada individu-individu untuk melaksanakan tugas –
tugasnya.
3. Actuating
Setelah
organisasi terbentuk dan disusun personalianya, selanjutnya manajer perlu
menegaskan karyawan untuk bergerak menuju tujuan yang telah ditentukan.
Secara
sederhana actuating atau proses pengarahan ini adalah proses membuat para
karyawan melakukan apa yang diinginkan, dan harus mereka lakukan. Pengarahan
ini melibatkan beberapa kegiatan kepemimpinan seperti komunikasi, motivasi, dan
disipli yang dilakukan oleh manajer.
4. Controlling
Fungsi
controlling atau pengawasan ini adalah penerapan cara dan peralatan yang
dilakukan perusahaan untuk menjamin bahwa rencana telah dilakukan sesuai dengan
yang telah ditetapkan. Fungsi controlling ini memiliki unsur berupa penetapan
standar yang ingin dicapai, pembandingan mengenai apa yang telah dikerjakan dan
apa yang ditetapkan sebelumnya, dan pengambilan tindakan koreksi
jika pelaksanaan tidak sesuai yang direncanakan perusahaan tersebut.
Demikian
adalah penjelasan singkat mengenai penerapan manajemen POAC di perusahaan.
Sedangkan
yang menjadi tujuan khususnya adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Dasar
Manajemen dan Bisnis kepada Bapak Aris Kurniawan M.M
BAB II
LANDASAN
TEORI
2.1
Pengertian Manajemen
Pengertian
dan Definisi Manajemen menurut Para Ahli
· Manajemen
adalah adalah suatu proses yang berbeda terdiri dari planning, organizing,
actuating, dan controlling yang dilakukan untuk mencapai tujuan yang ditentukan
dengan menggunakan manusia dan sumber daya lainnya (George R. Terry, 1997).
· Manajemen
adalah suatu seni yang produktif yang didasarkan pada suatu pemahaman ilmu,
ilmu dan seni tidaklah bertentangan, namun masing masing saling melengkapi
(Koontz)
· Ilmu
Manajemen merupakan proses dalam membuat suatu perencanaan, pengorganisisasian,
pengendalian serta memimpin berbagai usaha dari anggota entitas atau organisasi
dan juga mempergunakan semua sumber daya yang dimiliki untuk mencapai tujuan
yang ditetapkan (Stoner)
· Manajemen
sebagai sebuah rangkaian tindakan tindakan yang dilakukan oleh para anggota
organisasi dalam upaya mencapai sasaran organisasi. prosess merupakan suatu
rangkaian aktivitas yang dijalankan dengan sistematis (Wilson)
· Manajemen
adalah sebuah seni dalam mencapai tujuan yang diinginkan yang dilaksanakan
dengan usaha orang yang lain (Lawrance A Appley)
· Manajemen
sebagai suatu seni, tiap tiap pekerjaan bisa diselesaikan dengan orang lain
(Mary Parker F)
Dalam
kenyataannya, tidak ada definisi manajemen yang telah diterima secara
universal.
Marry
Parker Follet mendefinisikan manajemen sebagai seni dalam menyelesaikan
pekerjaan melalui orang lain. Manajemen memang bisa berarti itu, tetapi bisa juga
mempunyai pengertian lebih daripada itu. Pengertian manajemen begitu luas,
sehingga dalam kenyataannya tidak ada tidak ada definisi yang digunakan secara
konsisten oleh semua orang.

Gambar di
atas ini menguraikan manajemen sesuai
dengan pengertian manajemen yang paling kompleks dan mencakup aspek – aspek
penting pengelolaan, seperti yang dikemukakan oleh Stoner sebagai berikut ;
Manajemen
adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan usaha –
usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya – sumber daya
organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.
Disini
stoner mengambil kata proses bukan seni seperti yang dikemukakan oleh Mary.
Suatu
proses adalah cara sistematis untuk melakukan pekerjaan. Manajemen
didefinisikan sebagai proses karna semua manajer, tanpa memperdulikan
keterampilan khususnya dalam bidang tersebut, mereka tetap harus melakukan
kegiatan kegiatan tertentu yang saling berkaitan untuk mencapai tujuan-tujuan
yang diinginkan.
Proses
– proses tersebut diuraikan sebagai berikut ;
Perencanaan,
berarti bahwa para manajer memikirkan kegiatan-kegiatan mereka sebelum
dilaksanakan. Berbagai kegiatan ini biasaya didasarkan pada berbagai metode,
rencana atau logika, bukan hanya atas dasar dugaan atau firasat.
Pengorganisasian,
berarti bahwa para manajer mengkoordinasikan sumber daya-sumber daya manusia
dan material organisasi. Pengkoordinasian merupakan bagian vital pekerjaan
manajemen.
Selanjutnya,
Pengarahan berarti bahwa para manajer mengarahkan, memimpin, dan mempengaruhi
para bawahan. Manajer tidak melakukan semua kegiatan sendiri, tetapi melakukan
tugas-tugas esensial melalui orang-orang lain. Mereka tidak sekedar memerintah
tapi menciptakan suasana yang dapat membantu para bawahan untuk menyelesaikan
suatu pekerjaan dengan baik.
Pengawasan
berarti para manajemen berupaya untuk menjamin bahwa organisasi bergerak kearah
tujuan-tujuannya. Bila beberapa bagian organisasi ada pada jalur yang salah,
manajer harus membetulkannya.
2.2 Fungsi – Fungsi Manajemen
Secara
sederhana, Manajemen merupakan suatu proses tindakan atau seni perencanaan,
mengatur, pengarahan dan pengawasan yang dinamis yang menggerakan organisasi
mencapai tujuannya.
Secara umum, ada empat fungsi manajemen yang sering orang menyebutnya “POAC”, yaitu Planning, Organizing, Actuating, dan Controlling.
Dua
fungsi yang pertama dikategorikan sebagai kegiatan mental sedangkan dua
berikutnya dikategorikan sebagai kegiatan fisik.
Suatu
manajemen bisa dikatakan berhasil jika keempat fungsi di atas bisa dijalankan
dengan baik. Kelemahan pada salah satu fungsi manajemen akan mempengaruhi
manajemen secara keseluruhan dan mengakibatkan tidak tercapainya proses yang
efektif dan efisien.
Adalah
proses yang menyangkut upaya yang dilakukan untuk mengantisipasi kecenderungan
di masa yang akan datang dan penentuan strategi dan taktik yang tepat untuk
mewujudkan target dan tujuan organisasi.
Kegiatan
dalam Fungsi Perencanaan antara lain :
· Menetapkan
pasar sasaran
· Merumuskan
strategi untuk mencapai pasar sasaran tersebut
· Menentukan
sumber-sumber daya yang diperlukan
· Menetapkan
standar / indikator keberhasilan dalam pencapaian tujuan dan pasar sasaran.
Strategi
dan taktik dalam fungsi perencanaan dapat ditentukan dengan menggunakan metode
analisis SWOT. Analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity and Threat)
adalah metode perencanaan strategis yang digunakan untuk mengevaluasi kekuatan,
kelemahan, peluang, dan ancaman dalam suatu proyek atau suatu spekulasi bisnis.
Proses ini melibatkan penentuan tujuan yang spesifik dari spekulasi bisnis atau
proyek dan mengidentifikasi faktor internal dan eksternal yang mendukung dan
yang tidak dalam mencapai tujuan tersebut. Analisis SWOT dilakukan untuk
mengidentifikasi kondisi internal dan eksternal yang terlibat sebagai inputan
untuk perancangan proses sehingga proses yang dirancang dapat berjalan optimal,
efektif, dan efisien. Namun analisis SWOT bisa sangat subjective. Bisa saja
terjadi 2 orang menganalisa 1 perusahaan yang sama menghasilkan SWOT yang
berbeda. Dengan demikian, hasil analisa SWOT hanya boleh digunakan sebagai
arahan dan bukan pemecahan masalah. Pembuat analisa harus sangat realistis
dalam menjabarkan kekuatan dan kelemahan internal. Kelemahan yang disembunyikan
atau kekuatan yang tidak terjabarkan akan membuat arahan strategi menjadi tidak
bisa digunakan
Adalah
proses yang menyangkut bagaimana strategi dan taktik yang telah dirumuskan
dalam perencanaan didesain dalam sebuah struktur organisasi yang tepat dan
tangguh, sistem dan lingkungan organisasi yang kondusif, dan dapat memastikan
bahwa semua pihak dalam organisasi dapat bekerja secara efektif dan efisien
guna pencapaian tujuan organisasi.
Kegiatan
dalam Fungsi Pengorganisasian antara lain :
· Mengalokasikan
sumber daya / sarana, merumuskan dan menetapkan tugas, dan menetapkan prosedur
yang diperlukan
· Adanya
struktur organisasi yang menunjukkan adanya garis kewenangan dan tanggungjawab,
sehingga setiap pekerja akan bergerak dan bertindak sesuai dengan job
description dan kewenangannya dan memiliki tanggung jawab dan bertanggung jawab
atas pekerjaan yang telah dilaksanakan.
· Kegiatan
pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia/tenaga kerja, hal ini sangatlah
penting agar dapat menyegarkan dan menambah wawasan pekerja.
· Kegiatan
penempatan sumber daya manusia pada posisi yang paling tepat atau dengan kata
lain strategi yang telah ditetapkan harus dilaksanakan oleh pekerja yang
dinilai mampu dan layak dan memiliki pengetahuan yang cukup di bidangnya.
Adalah
proses implementasi program agar dapat dijalankan oleh seluruh pihak dalam
organisasi serta proses memotivasi agar semua pihak tersebut dapat menjalankan
tanggungjawabnya dengan penuh kesadaran dan produktifitas yang tinggi.
Kegiatan
dalam Fungsi Pengarahan dan Implementasi antara lain :
· Mengimplementasikan
proses kepemimpinan, pembimbingan, dan pemberian motivasi kepada tenaga kerja
agar dapat bekerja secara efektif dan efisien dalam pencapaian tujuan.
· Memberikan
tugas dan penjelasan rutin mengenai pekerjaan dan menjelaskan kebijakan yang
ditetapkan.
Adalah
proses yang dilakukan untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan yang telah
direncanakan, diorganisasikan dan diimplementasikan dapat berjalan sesuai
dengan target yang diharapkan sekalipun berbagai perubahan terjadi dalam
lingkungan dunia bisnis yang dihadapi.
Kegiatan dalam Fungsi Pengawasan dan
Pengendalian antara lain :
· Mengevaluasi
keberhasilan dalam pencapaian tujuan dan target bisnis sesuai dengan indikator
yang telah ditetapkan. Hal ini harus secara rutin dilakukan supaya terlihat
pada point mana target yang telah tercapai dan target yang belum tercapai
sehingga dapat diambil langkah penyelesaian.
· Mengambil
langkah klarifikasi dan koreksi atas penyimpangan yang mungkin ditemukan.
Langkah ini harus selalu dilakukan agar setiap kesalahan yang ada dapat segera
diperbaiki.
· Melakukan
berbagai alternatif solusi atas berbagai masalah yang terkait dengan pencapaian
tujuan dan target bisnis.
2.3
Riwayat Perusahaan
Munculnya
PT. Satria Karya Sejahtra ini bertitik tolak dari adanya
permasalahan keamanan di lingkup internal perkantoran, yang memerlukan
penanganan khusus. Permasalahan ini menjadi penting, mengingat pengaman
internal perkantoran berada di luar kewenangan aparat kepolisian. Di sisi lain,
jika mengacu pada prinsip-prinsip dood govermance yang dewasa ini sedang
digalakkan di negara-negara sedang berkembang, termasuk Indonesia dalam rangka
efisiensi di kantor pemerintah dan lembaga swasta, maka pilihan tepat
penanganan masalah keamanan internal perkantoran menggunakan jasa pelayanan
pihak lain, yang memiliki keahlian khusus melalui kemitraan dengan sistem
kontrak.
Atas
dasar itu, maka muncul pemikiran untuk mendirikan badan usaha yang bergerak di
bidang jasa pengamanan bagi perusahaan swasta atau BUMN, terutama pengamanan
asset-asset dan gedung perkantoran dan perumahan.
Untuk
mewujudkannya, perusahaan jasa pelayanan keamanan Satria menyiapkan konsep
management yang komprehensif dan kredibel, yang didukung oleh Sumber Daya
Manusia (SDM) yang terlatih dan terdidik, pengaturan penempatan personil
keamanan yang terpadu dan berkesinambungan, serta performance, para personil
yang profesional.
VISI
Memberikan
pelayanan prima yang memuaskan bagi setiap pengguna jasa pengamanan serta
menjalin kemitraan dan kolaborasi strategis "win-win
solution" dengan pengguna jasa pengaman serta aparat terkait
yang berkompeten guna menumbuhkan rasa percaya diri, meningkatkan disiplin dan
mitivasi kerja.
MISI
Mewujudkan
suasana keamanan yang kondusif di lingkungan kerja perusahaan melalui tenaga
security, sejalan dengan peraturan perusahaan tentang penmgamanan. Memposisikan
peran pelayanan jasa pengaman sebagai solusi pemecahan masalah keamanan
internal gedung perkantoran dan perumahan secara inovatif dan praktis, dan
sekaligus ikut berpatisipasi aktif membantu aparat kepolisian dan kamtibmas.
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 PLANNING
2.1 Pengertian Planning
Kesuksesan organisasi adalah mencapai
tujuan yang telah disusun oleh manajer pada periode awal membentuk organisasi. Planning adalah
sebuah proses di mana seorang manajer memutuskan tujuan, menetapkan aksi untuk
mencapai tujuan (strategi) itu, mengalokasikan tanggung jawab unutk menjalankan
strategi kepada orang tertentu, dan mengukur keberhasilan dengan membandingkan
tujuan.
Sebelum
mengetahui lebih lanjut tentang perencanaan terlebih dahulu mengenal perbedaan
visi, misi, nilai dasar, dan tujuan. Misi, visi, nilai dasar dan tujuan adalah
titik awal dari perencanaan strategi. Keempat hal ini mengatur
konteks landasan dari suatu proses dan untuk menjalankan sesuatu serta unit perencana
yang tertanam dalam suatu organisasi. Perbedaan misi menggambarkan tujuan dari
suatu organisasi sedangkan visi menggambarkan keinginan untuk masa
depan, seringkali digambarkan dengan jelas, menggugah, singkat oleh
manajemer suatu organisasi.
Nilai
dasar menyatakan secara filosofis komitmen yang diprioritaskan oleh manajer,
sedangkan tujuan adalah keinginan masa depan dari suatu organisasi yang di
usahakan untuk di wujudkan. Empat karakteristik tujuan :
1. Tepat
dan terukur. Tujuan yang terukur dapat memberikan seorang manajer standar
pembanding terhadap hasil yang telah dilaksanakan.
2. Menyebutkan
issue yang penting. Untuk membangun manajer harus memilih beberapa tujuan major
untuk menaksir kinerja organisasi.
3. Menantang
tetapi realis. Memberikan sebuah tantangan tersendiri bagi semua karyawan,
anggota organisasi untuk mengiprovisasi kinerja dalam organisasi. jika tujuan
tidak realis atau terlalu mudah akan membuat putus asa dan bosan pada diri
karyawan atau anggota organisasi.
4. Menetapkan
dalam periode waktu tertentu yang seharusnya dapat dicapai. Tenggat
waktu dapat menyuntikkan rasa urgensi dalam pencapaian
tujuan dan bertindak sebagai motivator. Namun, tidaksemua
tujuan memerlukan kendala waktu.
2.2 Prinsip Perencanaan
Berikut ini adalah prinsip dari
perencanaan:
A. Prinsip
Kontribusi
Tujuan perencanaan adalah untuk
memastikan pencapaian efektif dan efisien tujuan organisasi, dalam
kenyataannya, kriteria dasar untuk perumusan rencana untuk mencapai Tujuan utama
perusahaan. Pencapaian tujuan selalu tergantung pada rencana dan jumlah
kontribusi organisasi terhadap perencanaan.
B. Prinsip
Suara dan Konsisten Premising
Bangunan adalah asumsi mengenai kekuatan
lingkungan seperti kondisi ekonomi dan pasar, sosial, politik, aspek hukum dan
budaya, tindakan pesaing, dll Ini adalah lazim selama periode pelaksanaan
rencana. Oleh karena itu, Rencana yang dibuat atas dasar tempat sesuai, dan
masa depan perusahaan tergantung pada tingkat kesehatan rencana yang mereka
buat sehingga untuk menghadapi keadaan tempat.
2.3 Metode Pengambilan keputusan
A. Elementary
Methods (Metode dasar)
Metode pendekatan ini sangat simpel, dan
membutuhkan perhitungan untuk mendukung analisis. Metode ini sesuai untuk
keadaan di mana masalah hanya diselesaikan oleh satu orang saja, alternatif
yang terbatas dan ada karakter yang unik di lingkungan pembuatan keputusan.
B. MAUT (Multi-Attribute Utility Theory)
Metode ini menggunakan skala prioritas
antara 0-1 untuk membantu dalam pembuatan keputusan di organisasi. Hasil dari
prioritas itu dapat digunakan sebagai pembuat keputusan.
C. SMART (
Simple Multi Attribute Rating Technique)
Metode pengambilan keputusan ini
menggunakan fungsi nilai yang dihitung secara matematis. Adanya skala penilaian
yang telah diketahui oleh banyak orang.
D. Basic
Multi-Criteria Decision Analysis (MCDA)
MCDA umumnya
mempunyai masalah yang memiliki salah satu dari
sejumlah alternatif. Alternatif tersebut didasarkan pada seberapa baik
dalam penilaian hal yang dipilih. Kriteria dan nilai atau
skornya dibuat oleh si pembuat keputusan. Setelah memberikan penilaian
terhadap alternatif dijumlahkan sesuai masing-masing kriteria
dan kemudian diurutkan sesuai jumlah skor. Urutan hasil yang telah didapatkan oleh
pembuat keputusan adalah hasil keputusan.
E. NGT
(Nominal Group Technic)
NGT adalah suatu metode untuk mencapai
konsensus dalam suatu kelompok dalam membuat keputusan. Teknik ini mengumpulkan
ide-ide dari tiap peserta atau anggota organisasi kemudian memberikan voting
dan rangking terhadap ide-ide yang mereka pilih. Ide yang dipilih adalah ide
yang paling banyak skornya, yang berarti merupakan konsensus bersama.
2.4 Metode Menentukan Prioritas
A. Metode USG (Urgent,
Seriousness, and Growth)
1) Urgent
Tingkat kegawatan suatu masalah, artinya
apabila masalah tidak segera ditanggulangi akan semakin gawat.
2) Seriousness
Tingkat keseriusan sebuah masalah,
apabila masalah tidak diselesaikan akan berakibat serius pada masalah lainnya.
3) Growth
Besar atau luasnya masalah berdasarkan
pertumbuhan atau perkembangan, artinya apabila masalah tersebut tidak segera
diatasi pertumbuhannya akan berjalan terus.
B. Metode
MCUA (Multi Criteria Utility Assesment)
MCUA adalah metode kuantitatif untuk
memilih intervensi terbaik di antara banyak pilihan kandidat yang berbeda.
C. Metode
CARL (Capability, Accessability, Readiness, and Leverage)
Metode CARL merupakan suatu teknik atau
cara yang digunakan untuk menentukan prioritas masalah jika data yang tersedia
adalah data kualitatif. Metode ini dilakukan dengan menentukan skor atas
criteria tertentu, seperti kemampuan (capability), kemudahan (accessibility),
kesiapan (readiness), serta pengungkit (leverage). Semakin besar
skor semakin besar masalahnya, sehingga semakin tinggi letaknya pada urutan
prioritas. Penggunaan metode CARL untuk menetapkan prioritas masalah dilakukan
apabila pengelola program menghadapi hambatan keterbatasan dalam menyelesaikan
maslah. Penggunaan metode ini menekankan pada kemampuan pengelola program.
D. Metode Hanlon
Metode Hanlon merupakan suatu teknik
atau cara yang digunakan untuk menentukan prioritas masalah dengan menggunakan
empat kelompok kriteria, yaitu besarnya masalah (magnitude), kegawatan
masalah (emergency), kemudahan penanggulangan masalah (causability),
dan faktor yang menentukan dapat tidaknya program dilaksanakan (PEARL factor).
Tujuan Metode Hanlon adalah meningkatkan pemahaman dan keterampilan peserta
dalam meningkatakan penentuan masalah.
2.5 Implementasi
(Koontz & Weihrich, 1990, p. 55)
A. Menyadari
kesempatan.
Penting sekali bagi seorang manajer
untuk mengetahui kesempatan atau peluang di lingkungan eksternal dengan sangat
baik dalam organisasi sebagai awal perencanaan. Menjadi bagian penting melihat
terhadap kesempatan masa depan.
Manajer harus tahu di mana kondisi
pasar, kompetisi antar organisasi, permintaan konsumen atau pelanggan, kekuatan
mereka sendiri, dan kelemahan.
B. Menentukan
tujuan.
Langkah kedua adalah menetukan tujuan
untuk seluruh organisasi dan setiap sub unit di dalamnya. Tujuan memberikan
arahan terhadap setiap departemen atau sub unit di dalamnya.
C. Mengembangkan
dasar pikiran.
Dasar pikiran di sini adalah sebuah
asumsi yang ada dalam pikiran organisasi. Mengenal dan memahami dengan baik
rencana akan berjalan di lingkungan yang sesuai, eksternal maupun internal.
D. Menentukan
tindakan alternatif.
Memikirkan tindakan alternatif jika
dalam pelaksanaan perencanaan terdapat permasalahan hambatan.
E. Mengevaluasi
tindakan alternatif.
Langkah selanjutnya adalah mengevaluasi
tindakan alternatif dengan menimbang dengan cermat, tindakan alternatif yang
memberikan peluang yang paling bagus tentang pencapaian tujuan, biaya yang
paling murah dan keuntungan yang paling tinggi.
F. Memilih
tindakan alternatif yang telah ditentukan atau dirumuskan dan dievaluasi.
G. Merumuskan
pendukung tujuan. Saat keputusan telah dibuat, perencanaan telah selesai, dan
tujuah langkah telah dilakanakan, maka memerlukan daftar atau hal yang
diperlukan untuk mendukung tujuan. Contoh pendukung tujuan adalah alat, bahan,
memperkerjakan dan melatih pegawai, dan mengembangkan sebuah produk baru.
H. Penghitungan
anggaran dana perencanaan, seperti volum dan harga penjualan, biaya operasi
perencanaan, pengeluaran untuk peralatan dan lainnya.
3.2 Organizing
3.1
Pengertian
Organizing, atau dalam bahasa Indonesia
pengorganisasian merupakan proses menyangkut bagaimana strategi dan taktik yang
telah dirumuskan dalam perencanaan didesain dalam sebuah struktur organisasi
yang tepat dan tangguh, sistem dan lingkungan organisasi yang kondusif, dan
dapat memastikan bahwa semua pihak dalam organisasi dapat bekerja secara
efektif dan efisien guna pencapaian tujuan organisasi.
Definisi sederhana dari pengorganisasian
ialah seluruh proses pengelompokan orang, alat, tugas, serta wewenang dan
tanggung jawab sedemikian rupa sehingga tercipta suatu organisasi yang dapat
digerakkan sebagai suatu kesatuan yang utuh dan bulat dalam rangka
pencapaian tujuan yang telah ditentukan sebelumnya.
Pengorganisasian adalah penentuan
pekerjaan yang harus dilakukan, pengelompokan tugas dan membagi pekerjaan
kepada setiap karyawan, penetapan berbagai departemen serta penentuan hubungan.
Tujuan pengorganisasian ini adalah untuk menetapkan peran serta struktur
dimana karyawan dapat mengetahui apa tugas dan tujuan mereka.
3.2 Prinsip
Pengorganisasian
|
Proses
pengorganisasian dapat dilakukan secara efisien jika manajer memiliki pedoman
tertentu sehingga mereka dapat mengambil keputusan dan dapat bertindak. Untuk
mengatur secara efektif, prinsip-prinsip organisasi berikut dapat digunakan
oleh seorang manajer.
A. Prinsip Spesialisasi
Menurut prinsip,
pekerjaan seluruh perhatian harus dibagi di antara bawahan atas dasar
kualifikasi, kemampuan dan keterampilan. Ini adalah melalui
pembagian kerja dapat dicapai yang menghasilkan organisasi yang
efektif. Pembagian kerja adalah pemecahan tugas kompleks menjadi
komponen-komponennya sehingga setiap orang bertanggung jawab untuk beberapa
aktivitas terbatas bukannya tugas secara keseluruhan.
Tidak semua orang
secara fisik dan psikologi mampu melaksanakan semua operasi yang menyusun
kebanyakan tugas kompleks, bahkan dengan anggapan seseorang dapat memperoleh
semua keterampilan yang diperlukan untuk melaksanakan tugas tadi. Sebaliknya,
pembagian pekerjaan menciptakan tugas yang lebih sederhana yang dapat
dipelajari dan diselesaikan dengan relatif cepat.
Jadi hal ini
memperkuat spesialisasi, ketika setiap orang menjadi pakar dalam pekerjaan
tertentu. Karena tindakan ini menciptakan variasi pekerjaan, orang dapat
memilih atau ditugaskan pada suatu posisi yang sesuai dengan bakat dan minat
mereka.
B. Prinsip Definisi Fungsional
Menurut prinsip ini,
semua fungsi dalam kekhawatiran harus benar dan jelas kepada manajer dan
bawahan. Hal ini dapat dilakukan dengan jelas mendefinisikan tugas-tugas,
tanggung jawab, wewenang dan hubungan orang terhadap satu sama lain.
Klarifikasi dalam otoritas-tanggung jawab membantu dalam mencapai hubungan
koordinasi dan dengan demikian organisasi dapat berlangsung efektif. Sebagai
contoh, fungsi utama dari produksi, pemasaran dan keuangan dan hubungan
tanggung jawab wewenang dalam departemen ini harus jelas didefinisikan untuk setiap
orang agar melekat dalam pemikiran karyawan. Klarifikasi dalam hubungan
otoritas- tangggung jawab membantu dalam organisasi yang efisien.
|
C. Prinsip Rentang
Pengendalian atau Pengawasan
Menurut prinsip ini, rentang kendali
adalah rentang pengawasan yang menggambarkan jumlah karyawan yang dapat
ditangani dan dikontrol secara efektif oleh seorang manajer tunggal. Menurut
prinsip ini, seorang manajer harus dapat menangani jumlah karyawan yang
dibawahinya. Keputusan ini dapat diambil dengan memilih baik rentang lebar atau
sempit froma. Ada dua jenis rentang kendali: -
1) Rentang kendali
yang luas adalah salah satu di mana seorang manajer dapat mengawasi
dan mengendalikan secara efektif sebuah kelompok besar orang pada satu waktu.
2) Rentang kendali
yang sempit rentang ini, pekerjaan dan wewenang dibagi antara banyak
bawahan dan manajer tidak mengawasi dan mengendalikan kelompok yang sangat
besar dari orang di bawah dia. Manajer sesuai dengan rentang yang sempit
mengawasi sejumlah karyawan yang dipilih pada satu waktu.
3) Prinsip Rantai
Skalar
Rantai skalar adalah rantai komando atau
otoritas yang mengalir dari atas ke bawah. Otoritas dan tanggung jawab harus
berjalan dalam garis yang tegas dan tidak terputus dari eksekutif tertinggi
sampai yang paling rendah. Sebuah rantai skalar memfasilitasi alur kerja di
sebuah organisasi yang membantu dalam pencapaian hasil yang efektif. Sebagai
otoritas mengalir dari atas ke bawah, hal itu akan menjelaskan posisi
kewenangan untuk manajer di semua tingkatan dan yang memfasilitasi organisasi
yang efektif.
D. Prinsip Kesatuan Perintah
Ini menyiratkan satu bawahan-satu
hubungan yang superior. Setiap bawahan bertanggung jawab kepada satu manajer.
Hal ini membantu dalam menghindari kesenjangan komunikasi dan kesimpangan
tanggung jawab. Jika atasan yang lebih tinggi ingin memberikan perintah atau
hal-hal lain kepada para bawahan yang berada beberapa tangga di bawah dalam
hierarki organisasi, seyogianya hal itu dilakukan melalui atasan langsung orang
yang bersangkutan. Paling tidak dengan sepengetahuan atasan langsung tersebut.
3.3 Implementasi
Pentingnya pengorganisasian, menyebabkan
timbulnya sebuah struktur organisasi, yang dianggap sebagai sebuah kerangka
sebuah kerangka yang masih dapat menggabungkan usaha-usaha mereka dengan baik.
Dengan kata lain, salah satu bagian
penting tugas pengorganisasian adalah mengharrmonisasikan kelompok
orang yang berbada, mempertemukan macam-macam kepentingan
dan memanfaatkan kemampuan-kemampuan kesemuanya kesuatu arah
tertentu. (Terry 1979)
Maksud dari hal tersebut adalah dapat
dihasilkannya sinergisme, yang berarti perlu adanya tindakan-tindakan untuk
mengelompokkan semua kemampuan yang sesuai menjadi satu tempat dan
memanfaaatkan kemampuan tersebut agar dapat berguna bagi organisasi tersebut.
Akan tetapi suatu pengorganisasian tidak hanya mengelompokkan sumber daya
manusia saja, akan tetapi juga dengan sumber daya lainnya agar dapat efektif.
Jadi pengorganisasian merupakan sebuah kasus yang dapat menimbulkan efek yang
sangat baik dalam upaya menggerakan seluruh aktivitas dan potensi yang bisa
diwadahi serta sebagai pengawasan manajerial.
3.3 ACTUATING
4.1 Definisi Actuating
Actuating, dalam bahasa Indonesia artinya adalah menggerakkan.
Maksudnya, suatu tindakan untuk mengupayakan agar semua anggota kelompok
berusaha untuk mencapai sasaran sesuai dengan tujuan organisasi. Jadi, actuating bertujuan
untuk menggerakkan orang agar mau bekerja dengan sendirinya dan penuh dengan
kesadaran secara bersama- sama untuk mencapai tujuan organisasi secara efektif
dan efisien. Dalam hal ini dibutuhkan kepemimpinan (leadership) yang
baik.
Actuating merupakan upaya untuk merealisasikan suatu
rencana. Dengan berbagai arahan dengan memotivasi setiap karyawan untuk melaksanakan
kegiatan dalam organisasi, yang sesuai dengan peran, tugas dan tanggung jawab.
Maka dari itu, actuating tidak lepas dari peranan
kemampuan leadership.
4.2 Leadership dan Actuating
Actuating jelas membutuhkan adanya kematangan pribadi dan
pemahaman terhadap karakter manusia yang memiliki kecenderungan berbeda dan
sifatnya dinamis. Maka dari itu, fungsi actuatingternyata jauh
lebih rumit dari kelihatannya, karena harus melibatkan fungsi dari leadership.
Premis yang terkenal pernah diungkapkan oleh Doghlas McGregor, bahwa seorang
karyawan selalu diasumsikan negatif dan positif.
Untuk pembahasan masalah teori leadership,
akan dijelaskan lebih detail dalam bab POSDCORBE. Di dalam proses actuating ini,
keberadaan leadership adalah sebagai pendukung. Karena actuating sendiri
memiliki tujuan sebagai penggerak, yang nantinya akan bertujuan mengefektifkan
dan mengefisienkan kerja dalam organisasi.
4.3 Prinsip Actuating
A. Pelaksanaan
dan Penugasan.
Langkah lanjutan dari penetapan program
kerja pengawasan adalah pelaksanaan pengawasan dalam bentuk pemberian tugas.
Tjuan utama penugasan adalah untuk mencapai keseimbangan antara beberapa
faktor: persyaratan dan kualifikasi personal, keseimbangan untuk pengembangan
profesi, dan lain-lain.
B. Pengawasan
Pengelolaan Dana.
Pengelolaan terhadap dana atau anggaran
yang digunakan oleh organisasi penting dilakukan agar dana tidak disia-siakan.
C. Penyediaan
dan Pemanfaatan Sarana Pengawasan.
Pengawasan juga membutuhkan saran dan
alat untuk melakukan pengawasan, misalnya teknologi yang digunakan untuk
memantau kerja anggota organisasi atau pekerja.
D. Dokumentasi
Pengawasan.
Hal ini diperlukan unutuk mendapatkan
bukti yang nyata bila terjadi pelanggaran, kesalahan dalam melakukan aktivitas
di dalam organisasi.
E. Supervisi
Audit.
4.4 Implementasi
Hal penting yang dipertimbangkan dalam
melakukan actuating adalah untuk memotivasi seorang karyawan
untuk melakukan sesuatu, misalnya saja:
A. Merasa yakin
dan mampu melakukan suatu pekerjaan,
B. Percaya
bahwa pekerjaan telah menambahkan nilai untuk diri mereka sendiri,
C. Tidak
terbebani oleh masalah pribadi atau tugas lain yang lebih penting atau
mendesak,
D. Tugas yang
diberikan cukup relevan,
E. Hubungan
harmonis antar rekan kerja.
3.4 CONTROLING
5.1 Definisi Controling
Menurut G.R Terry, pengawasan dapat
didefinisikan sebagai proses penentuan, apa yang harus dicapai yaitu standar,
apa yang sedang dilakukan yaitu pelaksanaan, menilai pelaksanaan dan apabila
perlu melakukan perbaikan-perbaikan, sehingga pelaksanaan sesuai dengan rencana
yaitu selaras dengan standar.
Jelas sekali bahwa fungsi
pengawasan yang diambil dari sudut pandang definisi sangat vital dalam suatu
perusahaan. Supaya proses pelaksanaan dilakukan sesuai dengan ketentuan dari
rencana. Melakukan tindakan perbaikan, jika terdapat penyimpangan. Hal ini
dilakukan untuk pencapaian tujuan sesuai dengan rencana.
Jadi pengawasan dilakukan sebelum
proses, saat proses, dan setelah proses. Dengan pengendalian diharapkan juga
agar pemanfaatan semua unsur manajemen menjadi efektif dan efisien.
5.2 Proses dalam Controlling
Dalam controlling ada
beberapa proses dan tahapan, yaitu pengawasan. Proses pengawasan dilakukan
secara bertahap dan sistematis melalui langkah sebagai berikut:
A. Menentukan
standar yang akan digunakan sebagai dasar pengendalian.
B. Mengukur
pelaksanaan atau hasil yang sudah dicapai.
C. Membandingkan
pelaksanaan atau hasil dengan standar dan
menentukan penyimpangan jika ada.
D. Melakukan
tindakan perbaikan, jika terdapat penyimpangan agar pelaksanaan dan tujuan
sesuai dengan rencana.
E. Meninjau
dan menganalisis ulang rencana, apakah sudah realistis atau tidak. Jika
ternyata belum realistis maka perlu diperbaiki.
5.3 Implementasi
Beberapa cara pengendalian yang harus
dilakukan oleh seorang manajer yang meliputi pengawasan langsung, adalah
pengawasan yang dilakukan sendiri secara langsung oleh seorang manejer. Manajer
memeriksa pekerjaan yang sedang dilakukan untuk mengetahui apakah dikerjakan
dengan benar dan hasilnya sesuai dengan yang dikehendakinya.
Pengawasan tidak langsung, adalah
pengawasan jarak jauh, artinya dengan melalui laporan secara tertulis maupun
lisan dari karyawan tentang pelaksanaan pekerjaan dan hasil yang
dicapai.Pengawasan berdasarkan pengecualian, adalah pengawasan yang dikhususkan
untuk kesalahan yang luar biasa dari hasil atau standar yang diharapkan.
Pengawasan ini dilakukan dengan cara kombinasi langsung dan tidak langsung oleh
manajer.
Pengawasan juga bisa dibedakan menurut
sifat dan waktunya:
A. Preventive
control, adalah pengawasan yang dilakukan sebelum kegiatan dilakukan untuk
menghindari terjadinya penyimpangan dalam pelaksanaannya. Pengawasan ini
merupakan pengawasan terbaik karena dilakukan sebelum terjadi kesalahan namun
sifatnya prediktif.
B. Repressive
control, adalah pengawasan yang dilakukan setelah terjadinya kesalahan
dalam pelaksanaanya. Dengan maksud agar tidak terjadi pengulangan kesalahan,
sehingga hasilnya sesuai dengan yang diinginkan.
C. Pengawasan
saat proses dilakukan, sehingga dapat segera dilakukan perbaikan.
D. Pengawasan
berkala, adalah pengawasan yang dilakukan secara berkala, misalnya
perbulan, persmester, dll.
E. Pengawasan
mendadak (sidak), adalah pengawasan yang dilakukan secara mendadak untuk
mengetahui apa pelaksanaannya dilakukan dengan baik atau tidak.
F. Pengawasan
Melekat (waskat), adalah pengawasan/pengendalian yang dilakukan secara
integratif mulai dari sebelum, pada saat, dan sesudah kegiatan dilakukan.
Ada beberapa dasar proses dalam
pengawasan, diantaranya adalah teknik pengendalian dan sistem yang pada
dasarnya sama untuk kas, prosedur kantor, moral, kualitas produk atau apa pun.
Bisa diasumsikan bahwa baik rencana dan struktur organisasi yang
jelas, lengkap, dan terintegrasi akan tercipta jika manajer yakin akan
tugasnya. Jika manajer tidak yakin dari tugasnya atau bawahan tidak memiliki
kekuatan atau tidak tahu bahwa dia memiliki kekuatan untuk melaksanakan
tugasnya, akan menjadi sulit untuk menentukan siapa yang
bertanggung jawab.
CONCLUSION
POAC is a management proccess. Which
consist of planning, organizing, actuating and controlling. POAC still
connected with POSDCORBE ( management function). Both are different, but in
every element of POAC there always be management function.
The first element in POAC is planning.
Planning is an proccess where a manager make a decision, decided some strategy
to reach the goals, alocate the responsibility to someone else, to measure between
success and the goal.
To make a good plan, there are several
principles, such as the contribution principle and premising consistence. In
planning proccess a manager also need to make a decision. There are methods in
planning, such as elementary methods, MAUT, SMART, MCDA, NGT and others. When
planning is made, manager also need to decided the priority. They can use the
‘Deciding Methods’.
The second element is organizing.
Organizing is a proccess about how a strategy and tactics which have been created
in planning proccess, was well designed onto an organizational structure. Also
to ensure that all people in organization can work effectively and efficiency
which aims to reach the organization goals. To do a good organizing, manager
should not missed the principle of organizing.
The third is actuating. Actuating is
some actions to seek everyone in organization to work for reach the goals. So,
actuating aimed is to seek everyone so they want to work with awarness, some
kind like realizing a plan. Actuating also need a good leadership too, because
the manager is managing a lot of people here.
The fourth is controlling. Controlling
is a decide proccess like, what an organization must reached, what should
organization do, to assess the activity and compare it with the standart.
Controlling is done in every time, before a proccess, while the proccess is
working and also after the proccess.
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Dari
hasil penelitian saya fungsi manajemen POAC tersebut.
Saya
menyimpulkan bahwa fungsi manajemen yang sering orang menyebutnya “POAC”, yaitu
Planning, Organizing, Actuating, dan Controlling.
Dua
fungsi yang pertama dikategorikan sebagai kegiatan mental sedangkan dua
berikutnya dikategorikan sebagai kegiatan fisik.
Dan kita
saling tergantungan antara mental fisik jiwa...pola pemikiran saling
berhubungan satu tidak ada maka tak sempurna ,begitu juga fisik dalam
manajemen,satu ketentuan tak ada hancur lah manajemen didalam suatu organisasi.
4.2 Saran
Saran penulis pengarahan. Manusia adalah mahluk yang
sensitif dalam hal perasaan, sehingga jika manajer memberikan pemotivasian
kepada sesama manusia agar mereka melakukan saling memperbaiki sesama manusia. Suatu
manajemen bisa dikatakan berhasil jika keempat fungsi di atas bisa dijalankan
dengan baik. Kelemahan pada salah satu fungsi manajemen akan mempengaruhi
manajemen secara keseluruhan dan mengakibatkan tidak tercapainya proses yang
efektif dan efisien.untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
.
Mungkin
ini saja saran dari saya, jika ada bahasa atau kata - kata yang tidak berkenan
kiranya mohon dimaafkan, karena manusia adalah makhluk yang tidak luput dari
dosa.
Sekian, terimakasih
DAFTAR
PUSTAKA
Stoner, JAF, Freeman,
RE & Gilbert Jr, DR 1996, management 6th edn,
Prentice Hall, Inc, New Jersey.
Koontz, H &
Weihrich, H 1990, Esseintials of Management, McGraw-Hill Publishing
Company, singapore
Dubrin, Andrew J,
2008. Essentials of Management. Canada: Cengage Learning
Kathryn dan David C.
Martin, 1998. Management. State of America: The McGraw-Hill
Companies
George, R. Terry,
1979, Principles of Management.
Stoner, JAF, Freeman,
RE & Gilbert Jr, DR 1996, management 6th edn,
Prentice Hall, Inc, New Jersey.
Massie, JL, 1979, essentials
of management 3rd edn, Prentice Hall, Inc, Kentucky
Komentar
Posting Komentar